Tampilkan postingan dengan label Metode Penelitian Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode Penelitian Sosial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 November 2012

MIP- Pendekatan Pasca Tingkah Laku


Metodologi Ilmu Politik
Latar Belakang Munculnya Pendekatan Pasca Tingkah Laku
Oleh: Yasinta

a.      Pendahuluan
Pendekatan pasca tingkah laku adalah sebuah pendekatan yang memiliki dua tuntutan utama yaitu relevansi dan tindakan, berbeda dengan pendekatan sebelumnya yaitu pendekatan tingkah laku yang tuntutan utamanya adalah akan adanya dikotomi antar nilai dan fakta yang menekankan untuk mendahulukan kerja keras dan pengalaman, baru kemudian masalah relevansi. Perbedaan yang mendasar ini tentunya telah memacu ilmuwan ilmu politik tingkah laku dan kalangan lainnya untuk membenahi pendekatan ini agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat dan lingkungan sekitar pada saat itu ternyata bukanlah menjadi tuntutan utama yang mana terjadi krisis dalam kehidupan seperti krisis sosial, ekonomi, dan politik. Para ilmuwan menghasilkan banyak teori yang tidak sesuai dan tidak sejalan dengan apa yang terjadi. Hal ini terjadi karena adanya kecenderungan dari ilmuwan untuk memajukan ilmu politik dengan menghasilkan teori dan memajukan metode kuantifikasinya dengan tujuan yang ilmiah.
Relevansinya dengan kebutuhan masyarakat dan orientasinya pada teknik (kuantifikasi) inilah yang melatarbelakangi lahirnya pendekatan pasca tingkah laku. Asumsi masyarakat yang muncul adalah seharusnya produk dari pendekatan ini seperti teori dan metode mampu untuk mengadvokasi masyarakat. Perang Vietnam yang terjadi pada saat itu memunculkan pertanyaan dari banyak ilmuwan pendekatan tingkah laku. Ternyata, kuantifikasi tidak selalu menjadi solusi meski didukung dengan data dan indikator. Kuantifikasi tidak bisa mengukur hal-hal lain yang tidak bewujud dalam angka seperti faktor ideologi dan semangat yang menjadi intisari dari perang Vietnam. Ilmuwan tidak bisa mengukur dua hal tersebut meski sudah memperhitungkan dengan matang faktor lain seperti jumlah peluru, jumlah personil perang, dan lainnya.

b. Rumusan Masalah
Pendahuluan yang telah dijelaskan memberikan batasan pada makalah ini untuk menjawab permasalahan “Apakah faktor determinan yang melatarbelakangi munculnya pendekatan pasca tingkah laku?”
c.       Pembahasan
Latar Belakang Munculnya Pendekatan Pasca Tingkah Laku
Sebelum membahas tentang pendekatan pasca tingkah laku, dalam makalah ini pertama – pertama akan menjelaskan sedikit tentang pendekatan tingkah laku . awalanya pendekatan tingkah laku muncul dan berkembang di Amerika pasca perang dunia kedua dan pokok pemikiran dari pendekatan ini adalah lembaga formal bukan sesuatu yang perlu dibahas karena hal tersebut tidak memberikan informasi mengenai proses politik tapi lebih bermanfaat untuk mempelajari perilaku manusia karena merupakan gejala yang dapat diamati.[1] Salah satu pelopor dari pendekatan ini adalah Gabriel almond . disisi lain terdapat juga  kritik dari berbagai pihak terhadap pendekatan ini . contohnya adalah pedekatan tradisional yang masih mempertahankan hal – hal yang lama dimana pendekatan tersebut sangat kontadiktif dengan pendekatan tingkah laku sendiri yang cenderung melihat kedepan atau future oriented dan terdapat beberapa perbedaan lain diantara kedua pendekatan teersebut, selain dari pendekatan tersebut muncul pula reaksi dari sebuah gerakan yang dinamakan revolusi pasca perilaku gerakan ini muncul di amerika pada pertengahan decade enam puluahan dan mencapai puncaknya pada saat perang Vietnam dan Amerika. Kecamaan ini muncul karena pendekatan perilaku memiliki banyak masalah salah satunya adanya diskriminasi ras dan hal tersebut tidak diselesaikan oleh para penganut pendekatan perilaku. Menurut penganut pasca perilaku, para penganut perilaku telah gagal dalam menyelesaikan masalah yang timbul dari perang Vietnam tersebut oleh karena itu gerakan pasca perilaku ini mencanangkan perlunya sebuah relevansi dan tindakan.
Bibit terjadinya perang tersebut awalnya karena para ilmuwan, kaum militer, dan para politisi di  Amerika tidak mengetahui keberadaan Vietnam mereka sama sekali dan tidak mengenal negara tersebut. Masyarakat Amerika juga menganggap bahwa Vietnam adalah negara yang mudah untuk dipermainkan. Hal ini disebabkan oleh penjajahan sebelumnya yaitu oleh Prancis yang terttutup dan sikap tidak peduli terhadap Asia dan sejarah membuat Amerika tidak menyadari bahwa Vietnam termasuk negara tua dengan sejarahnya sendiri. Vietnam awalnya memang dikuasai oleh China baik itu sejarah, kondisi fisik, tanah , dan kultur bangsanya. Vietnam yang mendapat kemerdekaan cukup lama membuat seringnya terjadi persaingan internal dan perbutan dominasi oleh para tokohnya sendiri, konflik internal ini yang kembali membuat kepentingan masuk dikawasan ini. Adanya perkembangan pendekatan moderat dan revolusioner yang terlihat setelah perang dunia II dan terbentuknya Vietnam Utara dan Vietnam Selatan   dan kecenderungan politik masing – masing. Perbedaan inilah yang menimbulkan bibit – bibit perang Vietnam dan membuat Amerika ikut campur dan melibatkan diri sepenuhnya dalam perang tersebut.
David Easton yang merupakan tokoh politik dan salah satu ilmuwan perilaku mulai mempertanyakan keadaan pendekatan behavioral itu sendiri. Terutama pada saat terjadi perang antara Vietnam dan Amerika, dimana pada saat itu terjadi perpecahan internal, perang saudara dan juga adanya aturan – aturan bersifat otoriter yang menggawat di Amerika.[2] kejadian yang seperti ini yang tak pernah diramalkan oleh para ilmuwan politik penganut pendekatan perilaku. Seperti yang diketahui, bagaimana mungkin penelitian yang harusnya bersifat empirik tersebut tidak memperhatikan masalah – masalah sosial  yang sebegitu parahnya. Apa gunanya mengembangkan teknologi canggih apabila para ilmuwan politik sendiri tidak mampu mengatasai masalah sosial pada waktu itu.[3]
Pendekatan perilaku mendapat kritikan dari David Easton. Easton juga pernah menguraikan beberapa karakter utama pendekatan pasca perilaku didalam tulisannya “the new revolution in political science” yang bernama credo of relevance , pokok – pokok dari tulisannya itu yaitu yang pertama , pendekatan perilaku secara terselubung bersifat konservatif karean terlalu menekankan keseimbangan terhadap suatu sistem dan memberi peluang untuk perubahan. Kedua dalam penelitian empiris dan kuantitatif, ilmu politik menjadi sangat abstrak dan tidak relevan dalam masalah social.relevansi terhadap problema – problema yang dihadapi masyarakat lebih penting disbanding kecermatan. Ketiga, penelitian tidak boleh menghilangkan nilai – nilai tapi perlu mendapat bahasan,dengan kata lain ilmu tidak bisa netral dalam evaluasinya. Keempat, para cendekiawan harus mempunyai tugas yang historis dan unik untuk melibatkan diri dalam usaha mengatasi masalah social dan mempertahankan nilai – nilai kemanusiaan.[4]

Kritik Terhadap Pendekatan Pasca Tingkah Laku
Pendekatan pasca tingkah laku muncul dengan latar belakang di akhir tahun 1960an, David Easton yang merupakan pencetus general system theory mulai mempertanyakan pendekatan perilaku. Pendekatan ini juga lahir dari adanya kritik-kritik pada pendekatan tingkah laku mengenai tiga preposisi utama dari pendekatan tingkah laku itu sendiri yaitu (1) unit analisis ditekankan pada individu yang terlepas dari kelompok atau institusi; (2) fakta harus dipisahkan dari nilai; dan (3) penjelasan mengenai legitimasi selalu dimaknai dalam lingkup hukum dan konstitusi—secara umum—namun tidak pernah dimaknai dalam lingkup pernyataan deskriptif dalam fakta-fakta yang terjadi.[5]
·         Keberatan terhadap klaim positivis bahwa pernyatan yang bukan definisi (tautologis yang bermanfaat) dann tidak empiris itu tidak bermakna. Kritik ini menekankan pada tidak akan adanya peran bagi teori normatif, estetika, atau heurmenitika dalam analisis politik dan sosial. Sebaliknya, mereka akan membuktikan bahwa pendekatan ini menghaasilkan suatu bentuk pengetahuan atau pemahaman yang berbeda.
·         Tendensi ke arah empirisme yang kurang intelektual. Petama, pendekatan tingkah laku memiliki tendensi untuk menekankan apa yang dapat dengan mudah diukur, daripada apa yang mungkin akan penting secara teoritis. Permasalahannya, jenis kritisme ini akan selalu mudah untuk dibuat dalam arti bahwa apa yang bagi seseorang bersifat remeh, bisa jadi dianggap mendalam bagi orang lain. Kedua, penelitian pendekatan tingkah laku muncul dari fokus yang terlalu empiris, dimana kecenderungan untuk berkonsentrasi pada fenomena yang telah di observasi—seperti pemungutan suara—dibanding pada kekuatan struktural yang lebih halus, lebih mendalam, yang memajukan stabilitas dan perubahan dalam sistem sosial dan politik.
·         Anggapan indepedensi teori dan observasi.[6] Hal ini muncul karena pada awalnya, orang-orang tingkah laku era awal memproklamirkan pendekatan mereka terhadap penyelidikan sosial sebagai sesuatu yang “ilmiah” dan “bebas nilai”. Mereka tidak sedang berusaha mencari pembenaran bagi suatu pendirian etis atau politik tertentu. namun mereka sekedar berusaha membongkar fakta lewat observasi yang tidak berat sebelah atau tidak bias. Mereka berusaha netral dalam menjelaskannya secara politik.
Istilah New revolution in political science yang muncul pada tahun 1960 ini disebut-sebut sebagai directed against a developing behavioral orthodoxy dimana pendekatan tingkah laku dianggap sebagai a successful protest[7] oleh Robert A. Dahl. Hal utama dari revolusi ini adalah yang pertama, ilmuwan politik kontemporer Amerika mulai merasakan adanya sesuatu yang tidak relevan dalam kecenderungan politik dengan mengejar kesempurnaan dalam metodologi. Kedua, istilah bebas nilai yang menjadi gagasan utama dari para ilmuwan pendekatan pasca tingkah laku dirasa tidak dimungkinkan seratus persen murni bebas nilai. Kritik yang datang dari para ilmuwan pendekatan tingkah laku sendiri ini muncul dan meragukan bahwa pekerjaan ini akan selalu dipengaruhi oleh penilaian dan judgements personal dimana persepsi ini akan dipengaruhi oleh situasi status quo yang terjadi di Amerika Serikat yang pada saat itu tengah salah dalam menyampaikan gambaran kehidupan politik dan demokrasi.[8]
Pendekatan tingkah laku yang terlalu mendepankan metode kuantifikasi memperlihatkan ilmuwan politik pada saat itu cenderung untuk melestarikan keilmiahan dari Ilmu Politik saja dengan menghasilkan banyak teori. Metode kuantifikasi ini membuat ilmuwan menganggap dirinya sebagai murni peneliti. Kritik datang pada ilmuwan politik tingkah laku, mereka dianggap tidak memperhatikan fenomena sosial yang terjadi di sekeliling mereka seperti adanya diskriminasi, dominasi, dan kemiskinan. Mereka hanya fokus pada proses yang terjadi seperti sistem yang terdapat dalam sistem politik dalam kotak konversi dimana yang dipentingkan adalah respon (input) dan hasil (output) saja. Sebagai contoh, peneliti memandang negara adalah murni sebatas negara yang netral dan steril dalam menjalani urusan kenegaraan. Faktanya, negara belum tentu selalu netral dan bebas nilai. Inilah yang luput dari ilmuwan tingkah laku, mereka terlalu bebas nilai dan menyadari sebuah fenomena dengan pemahaman sebatas sebagai kejadian yang memang terjadi dan tidak berusaha untuk mengatasi permasalahan yang muncul pada fenomena tersebut dan tidak menyesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan masyarakat.
Ilmuwan pendekatan tingkah laku yang beralih menjadi ilmuwan pasca tingkah laku menyadari akan kelemahan yang telah terjadi atas pemikiran ulang dari para ilmuwan tingkah laku mengenai pendekatan-pendekatan yang dinilai dangkal dan seringkali tidak relevan ini. mereka menyadari akan keterlibatannya dalam pembuatan beberapa paradigma, kerangka konseptual, model-model, teori-teori, dan meta teori. Padahal, seperti yang sudah disebutkan tadi, dunia sesungguhnya tengah menghadapi krisis-krisis sosial, ekonomi, dan budaya yang kian parah sedangkan mereka bekerja dengan tekun dalam perpustakaan kampus universitas yang ekslusif, membentuk sebuah menara gading.[9]
Pendekatan tingkah laku yang begitu fokus pada metode penelitian kuantifikasi seperti masalah-masalah stabilitas, ekuilibrium dengan didasarkan pada skala-skala, indeks-indeks, dan teknik-teknik khusus untuk mengumpulkan data dan menganalisa data menimbulkan kesadaran sendiri  dalam penelitian. Penelitian dengan pengembangan teknik-teknik yang memadai serta peralatan riset yang canggih nyatanya tidak mampu memahami masalah sosial dan politik yang terjadi pada saat itu, bahkan mereka tidak berhasil memberikan sumbangan pemikiran untuk memecahkan masalah tersebut. Terlalu fokusnya pada metode kuantifikasi dan statistik menyadarkan mereka akan tidak semua hal bisa diukur dengan angka. Metode kuantifikasi bukanlah menjadi tujuan utama dalam pemecahan suatu masalah sosial, tapi hanya menjadi alat untuk menganalisa data dan membantu pemecahan masalah.[10] David Easton sempat menanyakan kembali apa yang telah dilakukannya selama ini berserta dengan para ilmuwan lainnya, “tidakkah kita berkewajiban memperhitungkan kondisi-kondisi yang berubah dan selalu siap dan mau mempertimbangkan kembali bayangan-bayangan yang lama dan memodifikasinya bila perlu?” seperti yang dikutip dari Varma.
Kritik utama pendekatan tingkah laku ini hal mendasar kembali ke filsafat ilmu pengetahuan dimana sebuah ilmu haruslah berguna bagi masyarakat, dimana para ilmuwan tingkah laku ini melihat sebuah gejala dangan statis padahal fenomena yang terjadi merupakan sesuatu yang dinamis, yang selalu berubah. Teori-teori yang banyak dihasilkan oleh ilmuwan tidak memikirkan bagaimana proses dan cara kerjanya atau solusi dari sebuah teori tersebut atas fenomena yang terjadi. 
Munculnya pendekatan pasca tingkah laku adalah sebagai sebuah penerimaan dari apa-apa yang telah dicapai oleh pendekatan tingkah laku, tetapi berusaha untuk mendorong ilmu politik lebih jauh lagi, ke arah suatu cakrawala baru.[11] Berbeda dengan pendekatan tradisional yang sepenuhnya menolak validitas pendekatan yang menekankan pada prilaku dan selalu mengulang kembali pada klasik ilmu politik. Pasca tingkah laku berusaha untuk melengkapi dari yang sudah dicapai dari masa lalu daripada sekedar menolaknya yang digagas oleh ilmuwan politik dari segala macam pandangan seperti konservatif atau ekstrim kiri. Semuanya berangkat dari sebuah keyakinan yaitu ketidakpuasaan yang mendalam terhadap arah penelitian politik pada masa itu.
d.      Kesimpulan
Pendekatan pasca tingkah laku adalah sebuah pendekatan yang masih menumpuk sejumlah perdebatan. Ia menjadi sebuah pendekatan yang dianggap “komplit”  yang muncul karena adanya ketidaksesuaian dan antara teori yang dihasilkan dengan kebutuhan masyarakat secara nyata ini menjadi salah satu faktor utama yang menjadi kritikan (relevansi). Pendekatan ini juga muncul karena adanya fokus yang berlebih dari ilmuwan pada saat itu pada metode kuantifikasi yang ilmiah sekali seperti factor analysis, cross tabulation, korelasi, dan metode berbasis data dan angka lainnya. Hal ini tidak sesuai dengan fenomena masyarakat yang terjadi dan membuat ilmuwan berdiam diri dalam menara gadingnya. Ilmuwan menyadari adanya masalah yang terjadi tapi tidak terpanggil untuk membenahinya. Mereka menjadi ilmuwan yang dengan pendekatan ini sebagai ilmuwan bebas nilai. Prinsip bebas nilai ini juga kelak mendapat kritikan karena dinyatakan tidak mungkin untuk selalu bebas nilai. Pasti akan ada penilaian personal dari ilmuwan itu sendiri.
Pendekatan pasca tingkah laku ini menjadi sebuah pendekatan yang memiliki kelemahan metodologis pada akhirnya. ia tidak berhasil merumuskan sebuah teori-teori politik yang baku yang masih menuai perdebatan. hal ini merupakan sebuah konsekuensi dari proses pensempurnaan pendekatan sebelumnya.
Daftar Pustaka
Buku
·         Marsh, David dan Gerry Stroker. Teori dan Metode dalam Ilmu Politik. Bandung:Penerbit Nusa Media. 2010
·         Varma, S,P. Teori-Teori Politik Modern. Jakarta: Rajagrafindo Persada. 2010
·         Nasruddin. Kuantifikasi Ilmu-Ilmu Sosial: Suatu Kemajuan atau Pembiasaan. Bogor: Institut Pertanian Bogor. 2002
·         Budiardjo, Miriam. Dasar -Dasar Ilmu politik.  Jakarta: PT.Gramedia. 2008
·         Ilmu Politik Indonesia. Jurnal Ilmu Politik Volume 1. Jakarta: PT.Gramedia. 1986

Internet
·         Kim, K,W. The Limits of Behavioral Explanation in Politic. Blackwell Publishing. http://www.jstor.org.stable/139732
·         Kirn, E, Micheal. Behavioralism, Post-Behavioralims, and The Philopsophy of Science: Two Houses, One Plague. Cambridge University Press, http://www.jstor.org.stable/1406579



[1] Budiardjo,Miriam, Dasar – Dasar Ilmu politik , Jakarta: PT.gramedia pustaka utama, 2008. Hlm. 74
[2] S.P Varma, Teori-Teori Politik Modern, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2010, hal 30
[3] Ibid, hlm. 52
[4] Asosiasi ilmu politik Indonesia , jurnal ilmu politik 1 , (PT.gramedia,Jakarta, 1986)
[5] K. W. Kim, The Limits of Behavioral Explanation in Politics, Blackwell Publishing, http://www.jstor.org.stable/139732
[6] David Marsh dan Gerry Stroker, Teori dan Metode dalam Ilmu Politik, Bandung:Penerbit Nusa Media, 2010. Hlm 60
[7] K.W. Kim, op.cit
[8] Michael E. Kirn, Behavioralism, Post-Behavioralims, and The Philopsophy of Science: Two Houses, One Plague, Cambridge University Press, http://www.jstor.org.stable/1406579
[9] Varma, op.cit, hal 50
[10] Nasruddin, Kuantifikasi Ilmu-Ilmu Sosial: Suatu Kemajuan atau Pembiasaan, Bogor:2002, Institut Pertanian Bogor. Hlm 13
[11] S.P Varma, op.cit, hlm 52

Sabtu, 11 Agustus 2012

MPS-REVIEW XII


REVIEW XII: Qualitative
De Vaus Chapter 5: Ethics and Data Collection
Oleh: Yasinta 
Sebuah penelitian memiliki tiga pertimbangan yaitu teknis, praktis, dan moral. Lebih mudahnya, dalam hal teknis, yang dapat dipertimbangkan adalah desain, sampel, bagaimana susunan kuesioner, dan skalanya. Dalam pertimbangan praktis adalah mengenai biaya, waktu, dan tujuan riset seperti apakah untuk mahasiswa, tesis, bahkan sampai pemerintah. Sedangkan pertimbangan moral atau etika adalah dimana adanya pihak-pihak yang harus dihadapi oleh peneliti, seperti partisipan, akademisi, publik, sponsor dan donatur yang mendanai penelitian. Bagaimana peneliti menghadapi karakter yang berbeda sehingga tidak menimbulkan konflik.
 Dasar etika kepada partisipan adalah sebagai berikut: aspek kesukarelaan, diizinkannya memperoleh informasi, tidak dilukai, jaminan kerahasiaan, kejujuran, dan dijamin privasinya.
Sedangkan kepada pihak sponsor dan donatur adalah: sikap yang melebih-lebihkan harus dihindari (dalam aspek metodologi dan kemampuan yang dimiliki), tidak terlalu banyak menggunakan hak untuk mengklaim atas apa yang sudah dipelajari, adanya kompromi dan pengertian baha setiap penelitian tidak akan selalu sempurna, akan selalu benar dan tepat, mmperkenalkan keterbatasan penelitian, dan memberikan perhatian khusus pada informasi yang akan diberikan pada sponsor.
Lalu kepada publik, peneliti harus bisa mempertanggung jawabkan hasil penelitiannya, beserta metode-metode yang digunakan, sampel, dan interpretasi agar publik bisa menjadi evaluasi dan kritik yang bermanfaat.
Pertimbangan etika menjadi utama, dan ada dua pendekatan untuk menyelesaikannya. Pertama dengan cara menetapkan peraturan dan mengikutinya, mengabaikan aspek akibat dari penelitiian tersebut. Aturan ini dapat menjaga agar peneliti tidak banyak melibatkan dri untuk mengarahkan penelitian, dan menimbulkan penelitian yang bersifat rendah.
Kedua adalah menggunakan pedoman etikan menggunakan pendapat jauh lebih banyak dari yang dapat dilakuakn, berbeda dengan aturan yang dibuat sebelumnya sehingga lebih realistis. Jadi, untuk menghindari konflik yang akan terjadi, peneliti sebaiknya membuat panduan etika saat meneliti.

MPS-REVIEW XI


REVIEW XI: Qualitative
Chapter 5,6,7: Designing fieldwork strategies and materials, In-Depth interview, and Focus group
Oleh: Yasinta 
Chapter5: Indepth interview dan focus groups adalah dua cara yang bisa disatukan untuk mengumpulkan data, tapi karena sifatnya yang fleksibel dan alami, kedua cara ini tidak bisa dibakukan dan dibuat strukturnya, tapi dalam penelitian kualitatif, akan melihat kedua cara ini dengan berbeda dan bagaimana merancang lingkungan kerja dan bahan apa saja yang diperlukan untuk penelitian.
Semua data dalam kualitatif, bisa dibuat strukturnya, karena pada prakteknya akan berhubungan dengan seberapa jauh si peneliti akan menspesifikasi isu yang ada untuk di-explore, seberapa banyak ketertarikan yang orang lain tidak mengantisipasinya, dan seberapa jauh keserusan dengan isu tersebut, pendekatan, dan konsepnya. Itulah gunanya jadwal wawancara. Studi exploratory dibuat untuk memahami nilai-nilai, konsep dan norma-norma—disebut juga cultural interviews—dimana pertanyaannya akan dibuat sedemikian rupa untuk membuat partisipan lebih terbuka dan leluasa untuk membuat jawabannya sendiri. Meski si peneliti lebih memiliki sense yang kuat untuk membuat kunci penelitian dan memimpin jawaban yang dikeluarkan oleh partisipan, dan akan meyelidiki secara dalam dengan tujuannya yaitu meng-uncover nilai dan budaya dari si partisipan.
Pengumpulan data dalam studi exploratory biasanya tidak terstruktur, tapi selama si peneliti tetap objektif dalam memahami nilai, konsep, dan norma dari partisipan dalam membuat pernyataan dan narative, itu tidak akan menjadi masalah. Tapi biasanya juga pengumpulan data dalam focus group lebih kurng terstruktur daripada in-depth interview karena ini lebih sulit untuk menentukan struktur dalam group discussion karena keistimewaannya adalah terjadinya interaksi.
Beberapa tahap dalam diskusi dalam interview dan focus group adalah: pertama, pengenalan; kedua adalah dengan pertanyaan pembuka—untuk mengupas latar belakang dan konteks; ketiga adalah masuk ke pertanyaan yang mulai mendalam, berpindah dari pertanyaan evaluatif ke explanatory yang spesifik untuk mendapatkan kronologis informasi; yang terakhir adalah memberikan saran dan pertanyaan yang mengarah ke masa depan untuk penutupan.
Dalam merancang topik, atau topik panduan yang lebih diknal dengan jadwal wawancara yang akan menjada konsistensi dari si peneliti, harus memerhatikan beberapa hal seperti tujuannya, menentukan subjek dan contoh dari topik, strukturnya, bahasa dan terminologi, spesifikasi dari follow-up pertanyaan dan yang terpenting adalah membuat panduannya mudah digunakan.
Dalam mendampingi penelitian lainnya (alat dan material) bisa dimulai dengan mengumpulkan data yang terstruktur, menggunakan dontoh kasus dan ilustrasi, dan bisa diakhiri dengan enabling and projective techniques dan fieldnotes. Dalam lingkungan kerja, alangkah baiknya jika penelitian diawali dengan team building dan mempersiapkan apa-apa yang akan terjadi seperti brifing dan panduan topik yang diuji sebelumnya.
Chapter6: indepth atau interview yang tidak terstruktur adalah salah satu metode pengumpulan data dalam kualitatif dimana yang utama adalah berbicara pada orang banyak dan memahami cara pandang mereka dalam penelitian sosial, karena dibalik itu semua, kekuatan dalam bahasalah yang paling menjelaskan.
In-depth interview merupakan bentuk dari obrolan sebagai metode pengumpulan datanya dengan satu tujuan, jadi obrolan yang memiliki konten tertentu dalam obrolan tersebut. Perbedaannya dengan obrolan biasa terletak pada tingkat kedalamannya, objetifitasan, dan peran antara si peneliti dan partisipan.
Dalam merumuskan satu perspektif, kan ada keragaman bagaimana untuk membuat satu struktur interview, dan seberapa dalam konten yang dibuat oleh peneliti atau partisipan sendiri dan ada dua posisi alternatif dalam indepth interviewing yaitu ‘miner metaphor’ yang ilmu pengetahuan digunakan untuk ilmu sosial dan penelitiannya dan ‘traveler methapor’ berupa model konstruktivis dan ilmu pengetahuan tidak diberikan tapi dibuat dan dinegosisasikan. Si interviewer dianggap sebagai orang yang berkelana bersama partisipan dan menginterpretasikan hasil penelitiannya.
Dalam banyak hal, yang mempengaruhi lahirnya pandangan baru dalam indepth interview adalah postpodernism, constructionism, dan feminism dalam melihat realitas yang reflektif dan lebih interaktif. Hal yang diutamakan dalam indepth adalah mengkombinasikan antara struktur dengan kefleksibelan, karena bahkan dalam interview yang paling tidak terstruktur pun, si peneliti dapat memiliki ketertarikan sendiri pada apa yang akan di-explore, dan penelitian akan mengikuti panduan topik dan topik inti atau isu. Kunci utama yang kedua adalah dengan membuat wawancara sealami mungkin. Ketiga, peneliti menggunakan skala penyelidikan dan teknik lain untuk mencapai kedalaman dari jawaban dalam penembusan, eksplorasi, dan penjelasannya. Keempat, adalah interview diharapkan memunculkan ide atau pengetahuan yang baru.
Keberhasilan dari interview, tentu bergantung juga pada si pewawancara. Ia harus bisa mendengarkan, memiliki pemikiran yang logis, dan ingatan yang kuat. Tentu rasa ingin tau yang besar akan sesuatu juga diperlukan.
Beberapa tahapan dalam interview adalah kedatangan (proses yang sangat menetukan hubungan kedepannya antara peneliti dan partisipan saat pertama kali bertemu), memperkenalkan apa penelitiannya, lalu memulai interviewnya (bisa dengan open question atau close, tergantung pada kesempatan apa yang terbuka untuk mendapatkan data yang lebih banyak), selama interview berlangsung, dan yang terakhir saat interview berakhir dan hubungan selanjutnya.
Pe-wawancara juga harus optimis jika partisipan akan memberikan segala data yang dibutuhkan, jika peran masing-masing dapat dijelaskan dan dipertegas diawal tahapan penelitian. Peran dari peneliti adalah untuk memfasilitasi partisipan untuk mengungkapkan pemikiran, perasaan, pandangan, dan pengalamannya, dan tetap harus aktif, tidak pasif hanya sebagai penanya. Sedangkan partisipan (interviewee) berperan untuk memberikan jawaban yang penuh, merefleksikan dan berfikir atas pertanyaan-pertanyaan dengan isu-isu yang relevan.
Beberapa gaya bertanya dan rumusan pertanyaan adalah dengan mapping question dan conten mining question yang dibagi lagi menjadi ground mapping, exploratory, explanatory, dan clarification. Rumusan pertanyaan adalah dengan menggunakan pertanyaan luas dan sempit, menghindari leading question, dan pertanyaan tentu harus sejelas mungkin.
Teknik lainnya untuk mencapai kedalaman adalah dengan tidak berasumsi (tidak ada jawaban yang benar dan salah), kenaturalan dan menghindari penyingkapan diri, dan merespon sesuai keadaan interview yang terjadi.
Chapter7: sejak abad ke-20, focus groups dibangun sebagai teknik penelitian yang paling kuat dalam pasar pnelitian, dimaan dipakai untuk meng-explore isu-isu seperti brand images, packaging, dan pemilihan produk. Mereka juga mengadopsinya dalam politik, dan penelitian partai politik dan menjadi penelitian dengan pendekatan nilai dan dikenal dengan metode mainstream dalam penelitian sosial.
Biasanya, focus group (fg) dilakukan oleh 6-8 orang yang bertemu pertama kali untuk 1-2 jam, tergantung dengan tujuan apa fg ini dilakukan. Proses fg dimulai dengan pembentukan, storming (konflik intragrup dan kritisi), norming (membangun keterpaduan grup, optimis), perfoeming dan adjourning. Tahapan dari fg adalah sebagai berikut: 1.scene setting dan aturan awal; 2.pengenalan masing-masing diri; 3.topik pembuka; 4.diskusi; 5.berakhirnya diskusi dengan topik final.
Dalam memimpin diskusi, perhatikan aspek-aspek seperti peran peneliti, kefleksibelan dari struktur diskusi, aturan, non-verbal language, mengontrol kontribusai atau keaktifan dari masing-masing individu dalam diskusi, dan memfokuskan pada pandangan personal.
Strategi lainnya untuk menggunakan fg adalah menggunakan in-depth exploration pada isu yang muncul, mengexplore pandangan beragam yang muncul, menantang norma sosial dan persetujuan umum yang jelas, dan memungkinkan menggunakan teknik lain yang lebih projective.
Untuk mengatur jumlah dan ukuran grup, perhatikanlah keragaman yaitu heterogenitas dan homogennya, komposisi orang asing, beberapa orang kenalan, dan grup lainnya yang sebelumnya telah ada. dalam fg dilaksanakan, siapkan dengan baik waktu dan tempat, ketetapan dan syarat mengenai diskusi, dan yang terakhir adalah merekam jalannya diskusi.









MPS-REVIEW X


REVIEW X: Qualitative
Chapter 4-Jane Ritchie, Jane Lewis, and Gillian Elam: Designing and Selecting Sampling
Oleh: Yasinta 
Sampel adalah hal yang penting dalam tiap penelitian, baik kualitatif atau kuantitatif. Dalam studi kasus dan populasi yang kecil pun atau kasus yang sederhana, keputusan yang dibuat akan tetap mempertimbangkan orang banyak.
Metode sampling yang telah diperkenalkan adalah probability sampling dan non-probability sampling.  Probability adalah metode sampling yang biasanya digunakan dan pendekatan paling tepat untuk penelitian statistik, tetapi tidak cocok untuk penelitian kualitatif, meski membantu menyediakan konteks yang akan dipahami. Dalam metode ini, sampel dipilih secara acak atau dalam beberapa kasus akan dipilih secara tidak seimbang demi mendapatkan sampel yang representatif. Metode ini cocok untuk menganalisa populasi yang luas dan menguji hipotesis secara empirik. Metode ini dibagi lagi menjadi simple random sampling, systemati random sampling, stratified random sampling, dan multistage sampling.
Penelitian kualitatif menggunakan sampel non-probability untuk memilikh populasi dalam studinya, sampel dipilih dengan sengaja untuk merefleksikan fakta-fakta atau fenomena yang diutamakan dari sebuah kelompok. Sampel tidak diharapkan untuk merepresentasikan dari satu populasi, tapi bisa menjadi dasar dari masalah yang akan diteliti sehingga cocok untuk small-scale dan in-depth studies.
Pemilihan dari partisipan dalam penelitian ini, pengaturan dari unit sampling adalah standar yang berdasarkan tujuan (criterion based on purposive). Unit sampel dipilih yang memiliki detail untuk dieksplorasi dan mengerti permasalahan central dan dapat melengkapi teka-teki yang para peniliti akan pelajari. Seperti karakteristik socio-demografi, perilaku yang spesifik seperti sikap, aturan dll yang disebut juga ‘judgement sampling’
Dua tujuan dari purposive sampling adalah untuk memastikan para pemilih bisa di-cover dan memastikan kriteria kunci tetap ada dan keragaman yang lain pun tetap ada untuk menghasilkan suatu pengeksplorasian yang baik.
Beberapa pendekatan dalam purposive sampling, adalah homogenous samples (untuk memberikan deatil/fakta dari satu fenomena), heterogenous samples (untuk mengidentifikasi penyebab utama dari suatu kasus), extreme case or deviant sampling (untuk kasus yang tidak biasa yang mendpatkan bebrapa pengecualian), intensity sampling, typical case sampling, stratified purposive sampling (untuk memilih kelompok yng bervariasi dalam mengungkap fakta-fakta suatu fenomena yang didalamnya terdapat kumpulan sampel yang homogen), dan critical case sampling.
Dalam purposive sampling, kriteria yang dipilih biasanya dilakukan di awal perancangan penelitian sesuai dengan faktor-faktor dan tujuan dari masing-masing sampel, teori dan hipotesis yang di peneliti. Sampel juga diharuskan merupakan variabel/objek yang jelas dan tidak bergantung (independen) agar menghasilkan penelitian yang cermat.
Theoritical sampling adalah jenis dari purposive sampling dimana peneliti akan melihat sampel seperti suatu insiden, orang banyak atau unit-unit ynag menjadi sumber potensial dalam kontribusi untuk membangun dan menguji konstruk sebuah teori. Peneliti akan memilih sampel awal, menganalisis data, lalu memilih sampel lebih jauh untuk menyaring beberapa kategori dan teori yang diperlukan saja. Jadi, theoretical sampling adalah proses pengumpulan data untuk menggenaralisasi teori untuk menganalisis kode, data dan memutuskan data apa yang akan dikumpulkan selanjutnya dan dimana.
Dua tipe sampling adalah non-interaktif:probability, dan interaktif:theoretical samples yang berorientasi pada kekayaan data dan kualitas dari konsep dan teori.
Oportunistic sampling melibatkan peneliti untuk mengambil keuntungan dari dari kesempatan tak terduga yang dibangun saat di lapangan kerja. Penelitian kualitatif tidak men-set untuk mengestimasi suatu insiden atau fenomena dalam populasii yang lebih besar. Kualitatif sampling ini menggunakan logika yang berbeda dengan kuantitatif, bisa dalam representatif logika dan konsiderasi pokok. Persamaan dalam purposive dan theoritical sampling adalah sama-sama memakai kriteria pemilihan, dan sama-sama menggunakan skala kecil dalam sampel.
Seperti yang dikatakan di awal, tujuan dari penelitian kualitatif adalah untuk memperoleh pemahaman alami dalam suatu fenomena, membongkar maksud dan membangun penjelasan, menghasilkan ide, konsep, dan teori. Sampel dibutuhkan untuk menyeleksi dan memastikan inklusi dan relevansi dari konstitusi, events, prosesnya, dll. dan syarat sampelnya adalah yang mewakilkan dan menyimbolkan. Ukuran sampel dalam kualitatif biasanya dalam ukuran kecil, karena: untuk mengantisipasi bukti-bukti yang ada dalam fenomena yang biasanya hanya muncul satu kali agar tetap terdeteksi dan data-data yang dihasilkan adalah data yang kaya dan membutuhkan pendalaman pemahaman yang didapatkan dari interview, observasi, dll yang dimana pengumpulan datanya dapat memakan waktu yang lama, bahkan sampai bertahun-tahun. Theoritical sampling akan cocok dilakukan di tempat yang tidak dikenal dan sulit untuk mengidentifikasi karakterstik sampel untuk penelitian explanatory.
Populasi juga menjadi penting untuk menentukan sampel, maka dari itu untuk memilih populasi yang tepat, lihat dari beberapa aspek seperti apakah kelompok tersebut adalah grup sentral dari inti pembahasan penelitian apa bukan, lalu apakah ada kelompok lain diluar kelompok sentral yang patut dipertimbangkan juga karena pengaruh, pandangan, dan pengalamannya.
Sample frames memiliki beberapa syarat, seperti apakah sample frame menyediakan detail dari pilihan sampel? Dimana purposive dan theoritical sampling membutuhkan penyajian sampel yang potensial dan berwawasan luas. lalu apakah sample frame menyediakan dasar yang komprehensif dan inklusif dimana penelitian akan dipilih? Lalu pertimbangkan juga partisipannya yang capable demi mencapai studi yang mendalam dan mumpuni. Dan terakhir, apakah sample frames menyediakan semua informasi untuk menghubungi banyak orang yang akan menjadi sampel sepetri alamat, dll.
Sampel frame dengan informasi dari luar atau existing information sources akan menghasilkan tipe sample frames yang baik. Contohnya adalah dengan admnistrative record—catatan administratif atau database yang telah tersedia sebelumnya, published list—untuk mendapatkan data organisasi atau perkumpulan para profesional, survey sample—dimana populasinya kecil dan jarang.
Untuk menghasilkan sampling frames, selain dengan data sources adalah dengan membuatnya sendiri dengan cara: household screen—mempelajari lingkungan sekitar dengan wawancara pendek, through an organisation—dimana sampel yang dibutuhkan akan lebih mudah jika menggunakan satu organisasi yang cukup memenuhi syarat. Beberapa pendekatan juga dapat digunakan bersamaan jika sedang dibutuhkan. Lalu ada snowballing or chain sampling—dimana melakukan wawancara orang yang sudah pernah diwawancarai sebelumnya untuk mengetahui apakah orang lain cocok untuk dijadikan kriteria, dan yang terakhir adalah flow population.
Untuk membuat purposive sample. Ada beberapa yang harus diperhatikan seperti mengidentifikasi populasi yang akan dipelajari, memilih kriteria dari purposive sample dan menmprioritaskannya, memutuskan lokasi tempat studi, membuat sample matrix, kuota untuk pemilihan, alokasi area, ukuran sampel, dan purposive sample untuk diskusi grup.

MPS-REVIEW IX


REVIEW IX: Qualitative
Chapter 2 Jane Ritchie-The Applications of qualitative methods to social research &
Chapter 3 Fane Lewis-Design Issue
Oleh: Yasinta A.
Metode penelitian yang berbeda-beda akan menghasilkan dan memberikan kontribusi yang berbeda pula. Misalnya dalam penelitian teoritis yang menitikberatkan pada pengujian, peningkatan dan pembangkitan disiplin fakta-fakta dalam pengumpulan datanya. Sedangkan applied research menggunakan ilmu pengetahuan dalam elaborasi dan pemahaman pada isu yang sedang berkembang. Pada ilmu sosial terdapat perdebatan mengenai kemungkinan untuk menggabungkan penelitian teoritis dan applied research untuk menghasilkan satu teori yang valid dan mumpuni, mengapa teori dan metode menjadi sangat penting? Silverman mengatakan bahwa, tanpa teori penelitian menjadi tidak mungkin dan tak berarah, dan tanpa penelitian teori hanyalah menjadi suatu tempat perenungan diatas kursi malas.
 Jadi, penelitian kualitatif menyediakan beberapa alternatif penelitian demi mencapai satu teori. Penelitian yang bersifat kualitatif ini dianggap lebih memberikan penjelasan dengan fungsi penelitian itu sendiri yang konstektual (atau deskriptif yang memaparkan bentuk baku yang sudah ada. membahas dari banyak sisi seperti dimensi dan kelas dalam suatu fenomena sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pemahaman pada masyarakat dan megeksplorasinya), eksplanatory (memeriksa dan mendalami/asosiasi dari satu fenomena yang terjadi, sebab dan akibatnya yang memungkinkan untuk menelusuri kaitannya dengan kasus lain dengan mempertimbangkan juga konteks dan tempat dari fenomena tersebut terjadi), evaluatif (yang menilai keefektivitasan dan bagaimana fenomena tersebut berlangsung yang berkaitan dengan kebijakan yang akan dievaluasi sebaik apa berjalannya sebuah kebijakan. Metode ini dibagi menjadi sumatif dan formatif, dimana sumatif berkaitan dengan dampak dan pengaruh dari keefektifitasan dan hasilnya. Dengan sifatnya yang fleksibel, dapat lebih leluasa dalam menghadapi masalah di lapangan. Dan formatif yang dapat memberikan informasi sebagai bahan untuk mengubah kebijakan), dan generatif (membantu pengembangan teori dengan pengembangan ide-ide barudan pengembangan teori sosial untuk memformulasikan kebijakan baru atau merombaknya dan menyempurnakannya).
Metode dapat dijalankan tanpa beberapa prinsip untuk memperhatikan aspek pemahaman, data yang berakar, kerumitan, spesifikasi dan kenyamanan, kejelasan dan kesensitifan dari pelaksanaan metode.
Ada beberapa cara pendekatan untuk mengumpulkan data kualitatif. Cara pertama dimana data yang difokuskan kepada fenomena yang terjadi. Seperti penelitian, analisis terhadap data dokumenter dan analisis discourse.
Penelitian atau observasi dimungkinkan untuk peneliti agar dapat menganalisa dan memahami, merekam interaksi yang terjadi antar perilaku meski tidak terjun langsung. Data dokumenter seperti dokumen publik seperti dokumen pemerintah, data dari media, surat resmi dan notulen rapat yang dapat dianalisa dengan pemahaman dari substansi data tersebut. Akan terungkap fakta-fakta sejarah yang tidak mungkin dilakukan penelitian. Analisis discourse atau analisa terhadapa wacana, percakapan, dan lainnya yang dapat mmperrlihatkan hubungan sosial dari hasil wawancara, pidato dan lainnya.
Cara yang kedua adalah dengan fokus pada data yang dihasilkan oleh peneliti sendiri, seperti dengan laporan, beberapa interview, dan focus group. Laporan cerita disini seperti dengan metode biografi yang dipelajari oleh si peneliti sendiri dan dengan natural menceritakan kembali pemahamannya. Interview atau wawancara untuk memperoleh data yang rinci dan triad, dimana wawancara mendalam terhadap tiga orang sekaligus dan dengan leluasa untuk saling memperbandingkan pendapatnya. Sedangkan focus group adalah diskusi yang melibatkan segelintir orang untuk membahas satu permasalahan.
Ada beberapa perdebatan mengenai apakah metode kualitatif dan kuantitatif bisa disatukan atau tidak. Kedua metode ini sebenarnya bisa dikombinasikan selama si peneliti yang menggunakannya memakai paradigma yang sama sehingga tidak terjadinya ketimpangan pemahaman. Karena dalam suatu penelitian, pengukuran suatu data membutuhkan analisa kuantitatif yang selanjutnya didampingi oleh proses investigasi dengan metode kualitatifnya. Tapi metode kualitatif juga ada kalanya untuk dipakai secara tunggal, ketika untuk mempelajari pengetahuan dan personal dari pertisipan dimana pemahaman yang secara mendalam dan personal dibutuhkan, saat konsep-konsep (saat mengumpulkan data dari subjek yang memiliki peran spesifik dan munculnya gejala-gejala sosial dan sensitifitas dan emosional individu partisipan sedang bermain) tidak bisa dikorelasikan dengan metode penelitian lain.
Rancangan penelitian kualitatif yang baik adalah rancangan yang tujuannya jelas, pertanyaan penelitian, dan metode penelitiannya juga jelas, dimana akan menghasilkan data yang valid dan dapat dipakai. Pertanyaan penelitian haruslah: jelas, dapat dimengerti, tidak ambigu. Fokus tapi tidak sempit, tidak abstrak, saling berhubungan, berguna baik untuk bahan kebijakan atau praktikal untuk pembangunan teori sosial. Dapat dikerjakan dan merupakan ketertarikan tersendiri untuk si peneliti.
Nilai dari penelitian kualitatif adalah lebih dapat dimengerti daripada mengukur perbedaannya dan dapat dilihat identifikasi dari absensi atau kehadiran dari fenomena, dapat mengksplorasi si fenomena tsb berikut alasannya secara eksplanatori dari dampak dan konsekuensinya. Lalu interaksinya antara fenomena itu sendiri dan dengan isu yang sedang dipelajari.
Rancangan penelitian ini juga dipengaruhi oleh pengambilan waktu dan periode dari penelitian tersebut atau time frame yang dibagi menjadi penelitian satu waktu/single episode yang digunakan ketika situasi cenderung stabil dan penelitian kualitatif longitudinal dimana menggunakan lebih dari satu periode waktu dalam mengumpulkan data yang mengangkat isu kunci yang membutuhkan penelitian, studi sampel lapangan dan analisis organisasi yang begitu kompleks bagi peneliti. Dan hal yang harus diperhatikan adalah importance of context, lalu keakuratan dan kelengkapan dari penelitian, dan siapa yang menginterpretasikan paling tinggi metode penelitian tersebut.
Dua kunci penelitian dalam membangkitkan data adalah dengan cara in depth interview dan focus group. Jika in-depth terfokus pada personal dalam konteks pertanyaan dan berusaha memahami kekomplesitasan dari sautu isu dan prosesnya sedangkan focus group pada interaksi yang dibangun dalam grup untuk membahas satu masalah subjeknya yang bersifat konseptual.








MPS-REVIEW VIII


REVIEW VIII:
D Vaus: Finding a Sample
Oleh: Yasinta A
Ada dua jenis tipe generalisasi (yang merupakan tujuan utama dari penelitian). Pertama, statistical generalisation yang menggunakan probability theory dalam memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang diteliti dalam kelompok yang lebih kecil/sampel yang terdapat dalam kelompok lebih besar/populasi.teori ini lebih dapat dipercaya karena menggunakan cara yang spesifik dengan data yang dapat dipercaya pula. Biasanya juga digunakan untuk penelitian yang sederhana.
Yang kedua adalah replication atau dalam bahasa indonesianya adalah meniru.metode ini menggunakan experimental research dimana eksperimen tidak akan menggunakan sampel berdasarkan statistik, tetapi akan mengulang dan meniru beberapa eksperimen tetapi dalam keadaan dan partisipan yang berbeda pula.
Ada beberapa istilah dalam teknik sampling. Yaitu, cencus/sensus yang merupakan kumpulan informasi mengenai kelompok-kelompok, begitu juga anggotanya, atau nama lainnya adalah populasi. Populasi adalah sekumpulan kelompok-kelompok atau set of units yang nantinya akan direpresentasikan oleh sampel. Sampel/sample mengumpulkan informasi hanya mengenai anggota dalam populasi tersebut (yang merepresentasikan populasi tersebut tentunya). Sebelum menentukan sampel dari populasi, kita harus memiliki sampling frame yang berisi daftar yang berisikan komponen-komponen yang terdapat dalam populasi.
Misalnya, jika kita ingin memperoleh sampel dari mahasiswa dari universitas, buatlah dulu frame-nya dan tentukan dulu/definisikan dulu siapa mahasiswa itu, apa mahasiswa sarjana, magister, dll. dan universitas dari mana saja, cukup satu atau lebih, dalam atau luar negeri agar sampel yang diperoleh bisa merepresentasikan penelitian yang akan dibuat. Representative sample adalah contoh yang dapat mewakili populasi tersebut. Mewakili dari sisi umur, gender, kelas, ras, dll misalnya.
Probality sampling lebih dipilih dibandingkan non-probability sampling karena dianggap lebih representatif dan lebih akurat dalam mengestimasi sampel. Probabiliti sampling dibagi menjadi empat sesuai dengan cara pengambilan sampel, ni disesuaikan juga dengan kesedian sampling frames, biaya, dan level keinginan pada keakurasian sampel dan metode yang sesuai dalam pengambilan data.
Simple random sampling (SRS) digunakan jika memperoleh sampling frame yang lengkap, lalu memberikan nomor pada nama-nama yang akan dijadikan sampel, lalu secara acak memilih nomor mana saja yang akan dipilih sebagai sampel setelah menentukan jumlah sampel yang dibutuhkan. SRS cocok digunakan untuk jika sampling frame tersedia secara utuh dan dengan luas daerah yang dekat dan tidak memerlukan perjalanan jauh dalam mengambil sampel. . Contohnya dari populasi langsung diambil 100 nama dan dari nama dipilih secara acak 20 nama untuk sampel
Systematic sampling tidak berbeda jauh dengan SRS, bedanya dalam menentukan sampel, tidak acak tapi secara sistematis dengan jarak dan interval yang sama. Jadi berpola dalam mengambil sampel. Memang lebih mudah, tapi kekurangannya adalah akan ada kemungkinan ketidakberagaman sampel yang diambil karena polanya yang sudah tetap tersebut dengan periodesasi. Contohnya dari 100 nama ditentukan 20 nama berikutnya sesuai dengan inteval, misal setiap kelipatan 5.
Stratified sampling adalah SRS yang dimodifikasi dan didisain untuk memproduksi sampel yang lebih akurat dan lebih representatif. Bedanya, proses ini diawali dengan membuat stratifikasi (misalnya berdasarkan latar belakang etnis) lalu membagi sampling frame berdasarkan itu masing-masing lagi seperti cara SRS. Contohnya, tentukan dulu latar belakang etniknya;seperti anglo saxon, asia, eropa selatan, dll dan setelah itu baru masukan masing-masing pada tnik itu 100 nama dan selanjutnya disaring lagi 20 nama untuk sampel. Teknik ini bisa membantu saat tidak tersedianya sampling frame dan jika terbentur masalah pada masalah geografis atau tempat yang tidak terjangkau untuk mengambil sampel secara luas tapi bisa tetap mewakili.
Multistage cluster sampling adalah teknik yang memadukan banyak cara dan digunakan jika tidak tersedianya sampling frame dengan area mengambilan sampel yang sangat luas. Pertama, bagilah kota menjadi beberapa area (distrik, elektorat) lalu kita sebut area ini kluster lalu tentukan SRS dari masing-masing kluster, bagi lagi kluster dengan blok-blok dan tentukan lagi SRSnya. Setelah itu kumpuklan alamat dari masing-masing blok untuk menentukan nama-nama calon sampel lalu SRS lagi. cara ini akan memaksimalkan kluster terpilih dan memaksimalkan kemungkinan sampel yang representatif dengan kondisi area sebaran sampel yang luas dan komposisi populasi yang begitu beragam.
Internet sample bisa digunakan untuk pengambilan sampel. Bisa dengan cara survey email (mengundang semua daftar kontak yang ada), mengunjungi web page, kuisioner pop up yang akan langsing muncul saat membuka web page, memasang iklan di halaman web lain, menggunakan mailinglist/newsgroup/chatgroup, dan cara komersial lainnya di internet. Kelemahan dari sampling ini adalah tidak semua individu memiliki akses ke internet dan kurang representatifnya sampel yang diperoleh. Jika sudah begini akan sulit untuk mengeneralisasikannya dan hanya menyentuh beberapa kalangan seperti anak muda, kalangan eksekutif, kalangan profesional dan kalangan lainnya yang menggunakan internet. Tapi kelebihannya adalah jika sampel yang dibutuhkan memang memiliki akses ke internet sehingga mempermudah pengambilan sampel.
Ukuran sampel harus ditentukan agar hitumgannya sesuai dan pas untuk mewakili keragaman dalam populasi dan membatasi juga variabel kunci dan ukuran toleransi dalam penentua sampling error dan reliabilitinya. Ukuran sampel juga harus dipertimbangkan atas biaya, waktu, dan akses pada respondennya.
Masalah berikutnya dala pengambilan sampel terletak pada keadaan tidak adanya respon yang akan menimbulkan dua masalah yaitu bias dan ukuran sampel yang tidak bisa digunakan nantinya. Masalah ini biasanya di atasi dengan memberikan pelatihan pada si interviewer, menggunakan penerjemah, dan bisa kembali berulang-ulang agar mendapatkan jawaban yang sesuai.
Antisiasi yang lain adalah menambah bobot si sampel dan membentuk variabel baru untuk dimasukkan ke SPSS dengan caranya persentase populasi dibagi oleh persentase sampel.
Selain memperoleh data dari sampel yang diambil oleh kita sendiri, sesuai dengan yang dibutuhkan dengan penelitian yang disebut dengan data primer, ada juga data sekondari dengan metode secondary analysis. Data yang tersedia dikumpulkan oleh pihak lain atau secara berkala memang diperuntukkan untuk mengumpulkan data yang baik dan representatif seperti agen dari pemerintah (kantor sensus) dan cocok digunakan untuk penelitian karena memuat data sikap, perilaku, dan atribut personal dari populasi. Data ini juga diperuntukkan untuk publik dan dilengkapi dengan analisis yang cukup. Memang tidak akan data yang disajikan selalu cocok dengan kebutuhan penelitian kita, tapi data akan berguna jika kita dapat mengolahnya dengan baik, karena data yang disediakan biasanya mencangkup luas atau area yang luas.
Non-probability sampling adalah cara kedua yang lebih murah dibanding probability sampling jika sampling frame tidak tersedia atau populasi yang luas dimana prinsip kluster tidak akan efisien. Non probability sampling dibagi lagi dengan tiga cara yaitu purposive sampling, quota sampling (yang cara penentuan sampelnya tidak dengan acak, tapi membatasi sesuai dengan keinginan si peneliti), dan availability sampling (yang disebar di koran-koran, pop up web page, telefon, dll) sampel tipe ini sesuai untuk merumuskan kuisioner yang tidak merepresentasikan apapun kecuali si sampel itu sendiri)
Yang penting dalam penentuan sampling menurut saya adalah ketelitian dalam pendefinisian dari sampel yang dibutuhkan agar tidak menimbulkan sampel yang timpang tindih dan menghasilkan sampel yang representatif dengan standard error yang diperbolehkan.

MPS-REVIEW VII


REVIEW VII: Constructing Questionnaires
Oleh: Yasinta A.
Kuisioner merupakan hal yang umum dalam teknik pengumpulan data. Dalam menyebarkannya, kita juga harus memperhatikan beberapa aspek seperti area penyebarannya. Lokasi ini menjadi penting karena lokasi menjadi penentu apakah para responden yang ada bisa dan mampu menjawab kuisioner dan menghasilkan data yang diperlukan. Pemilihan pertanyaan juga harus disesuiakan, seperti konsep yang dapat diukur yang terapat dalam pertanyaan, indikatornya, mekanismenya, data yang diambil hastus bisa dianalisis, dan yang paling penting kuisioner harus mencerminkan pemikiran teoritis dan data yang akan dianalisis.
Konten dari pertanyaan juga menjadi hal yang patut di perhatikan. Karena penting untuk membedakannya menjadi tipe yang berisi tentang perilaku (apa yang mereka lakukan), kepercayaan (keyakinan responden mengenai apa yang benar dan salahnya sesuatu), pengetahuan (hampir sama dengan kepercayaan, bedanya aspek pengetahuan ini melihat keakuratan dari kepercayaannya), sikap (menakar seberapa besar keinginan atau hasrat atas kepercayaannya), dan atribut (untuk mengeatahui identitas pribadi responden seperti imur, jenis kelamin, pendidikan, status pernikahan, dll) dari si responden.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan juga harus melihat kualitas dari segi kebenaran, validitas, diskriminasi pertanyaan, relevansi, dan respons si responden untuk menghindari keambiguitasan, kekuatan data yang diperoleh jika pengambilan datanya tidak menyeluruh, dan agar si responden tetap antusias untuk menjawab pertanyan.
Tata bahasa dalam perumusan pertanyaan yang dapat diperhatikan adalah kesederhanaan (simpel) nya pertanyaan termasuk apakah pertanyaan itu singkat apa bertele-tele, double barrelled, dan apakah pertanyaan itu mengarahkan si responden ke pertanyaan yang lain, dan alangkah baiknya jika pertanyaan tidak bernada negatif.
Jenis pertanyaan dibagi dua, yaitu pertanyaan tertutup (forced choice) dan terbuka.(open-ended question). Pertanyaan tertutup biasanya menyediakan beberapa jawaban (multiple choice), sehingga responden bisa dengan mudah menjawab dengan cukup memilih salah satu jawaban. Mengapa dikatakan forced karena si respondend “dipaksa” untuk memilih jawaban yang sudah disediakan oleh peneliti dan tidak dapat memberikan pendapatnya yang lain. Tipe ini menjadi lebih mudah untuk pengkodean atau komputerisasi karena data yang seragam dan sejenis untuk diolah. Tapi sebaliknya, pertanyaan terbuka lebih membebaskan si responden untuk menjawab karena bentuknya yang esay. Responden lebih trbuka dalam menyampaikan pendapat dan opininya. Beberapa kelemahan pertanyaan terbuka ini adalah baik responden dan si peneliti harus memiliki waktu yang lebih lama karena pengisian jawaban yang akan memakan waktu yang tidak sedikit untuk memahami jawabannya.
Respon dari responden dapat dibangun melalui beberapa prinsip seperti pertanyaan yang inklusif (jawaban bisa lebih dari satu). Eksklusif (responden haru memilih satu dari jawaban yang disediakan), dan pertanyaan yang jawabannya netral (seimbang)
Jawaban-jawaban dari responden dapat dikategorikan menjadi tipe numerik dimana bisa diurutkan dari terkecil hingga terbesar, likert scales yang simpel karena beberapa jawaban yang pertanyaannya sama disatukan dalam satu kolom pertanyaan dan jawabannya tersedia di kolom selanjutnya. Lalu tipe skala horizontal yang pada kedua ujungnya terdapat angka dengan dua masalah berbeda yang saling berlawanan. Tipe semantic differential yang sama dengan tipe skala horozontal yang menggunakan sifat berkebalikan, dan tipe vertical rating ladder yang seperti daftar kategori dari yang terbaik sampai yang tidak.
Ada lagi kategori pengisian menggunakan skoring, rangking (dimana responden memberikan angka sesuai urutan misal dari 1—terbaik hingga 10—terburuk dalam beberapa kategori), dengan centang, dan format pilihan ganda. Untuk mengatasi responden yang menjawab tidak tau atau no opinion adalah dengan strategi penyebarankuisioner itu sendiri, misal dengan berhadapan langsung antara si peneliti dengan responden atau dengan berbicara di telefon untuk menghindari kemalasan si responden.
Respon terdiri dari dichotomies atau pendekatan yang menanyakan satu-dua alternatif jawaban, five point scales: memberikan lima alternatif jawaban dengan tipe jawaban seperti Likert Format dan longer scales yang merupakan perpanjangan dari skala-skala baku yang membutuhkan pengukuran yang lebih banyak.
Layout dalam kuisioner adalah aspek yang harus direncanakan dengan matang untuk menghindari kemalasan dan kebosanan dari si responden dalam mengisi data yang diperoleh.  Dan dalam proses menjawab alangkah baiknya jika dipersingkat dengan beberapa instruksi yang mempercepat (seperti dari nomor satu, silakan lanjut nomor dua jika jawaban anda ya dan ke nomor lima jika jawaban anda tidak) dan intsrtuksi umum lainnya yang akan menghindarkan dari pemahaman dan kesalahan interpretasi/ambiguitas.
Pilot testing adalah satu ragkaian untuk menguji kuisioner sebelum dibagikan kepada responden, tahapan yang pertama bertujuan untuk menetapkan tata bahasa pertanyaan, mengevaluasi bagaimana respnden akan menginterpretasikan pertanyaan, dan meyakinkan rentang dari alternatif responnya sudah cukup. Tahap yang kedua adalah untuk mengevaluasi berdasarkan jawaban, komentar, dan analisa dari responden. Sedangkan tahapan terakhir mengevaluasi secara keseluruhan untuk mengantisipasi variasi dari kuisioner yang sudah umum, arti dari pertanyaan yang ambigu, pertanyaan yang boros, skalabilitas, bagaimana jika tidak mendapat respon, dan kesepakatannya. Hal lain yang harus diperhatikan lainnya adalah apakah ada pertanyaan yang terlewat, pertanyaan yang saling mengantisispasi, timing, dan ketertarikan responden dan perhatiannya.
Yang penting dalam melakukan pilot testing/ pretest ini adalah dengan memilih objek pengujian yang sesuai yang dapat merepresentasikan objek yang akan diteliti nantinya.