Sabtu, 11 Agustus 2012

MPS-REVIEW X


REVIEW X: Qualitative
Chapter 4-Jane Ritchie, Jane Lewis, and Gillian Elam: Designing and Selecting Sampling
Oleh: Yasinta 
Sampel adalah hal yang penting dalam tiap penelitian, baik kualitatif atau kuantitatif. Dalam studi kasus dan populasi yang kecil pun atau kasus yang sederhana, keputusan yang dibuat akan tetap mempertimbangkan orang banyak.
Metode sampling yang telah diperkenalkan adalah probability sampling dan non-probability sampling.  Probability adalah metode sampling yang biasanya digunakan dan pendekatan paling tepat untuk penelitian statistik, tetapi tidak cocok untuk penelitian kualitatif, meski membantu menyediakan konteks yang akan dipahami. Dalam metode ini, sampel dipilih secara acak atau dalam beberapa kasus akan dipilih secara tidak seimbang demi mendapatkan sampel yang representatif. Metode ini cocok untuk menganalisa populasi yang luas dan menguji hipotesis secara empirik. Metode ini dibagi lagi menjadi simple random sampling, systemati random sampling, stratified random sampling, dan multistage sampling.
Penelitian kualitatif menggunakan sampel non-probability untuk memilikh populasi dalam studinya, sampel dipilih dengan sengaja untuk merefleksikan fakta-fakta atau fenomena yang diutamakan dari sebuah kelompok. Sampel tidak diharapkan untuk merepresentasikan dari satu populasi, tapi bisa menjadi dasar dari masalah yang akan diteliti sehingga cocok untuk small-scale dan in-depth studies.
Pemilihan dari partisipan dalam penelitian ini, pengaturan dari unit sampling adalah standar yang berdasarkan tujuan (criterion based on purposive). Unit sampel dipilih yang memiliki detail untuk dieksplorasi dan mengerti permasalahan central dan dapat melengkapi teka-teki yang para peniliti akan pelajari. Seperti karakteristik socio-demografi, perilaku yang spesifik seperti sikap, aturan dll yang disebut juga ‘judgement sampling’
Dua tujuan dari purposive sampling adalah untuk memastikan para pemilih bisa di-cover dan memastikan kriteria kunci tetap ada dan keragaman yang lain pun tetap ada untuk menghasilkan suatu pengeksplorasian yang baik.
Beberapa pendekatan dalam purposive sampling, adalah homogenous samples (untuk memberikan deatil/fakta dari satu fenomena), heterogenous samples (untuk mengidentifikasi penyebab utama dari suatu kasus), extreme case or deviant sampling (untuk kasus yang tidak biasa yang mendpatkan bebrapa pengecualian), intensity sampling, typical case sampling, stratified purposive sampling (untuk memilih kelompok yng bervariasi dalam mengungkap fakta-fakta suatu fenomena yang didalamnya terdapat kumpulan sampel yang homogen), dan critical case sampling.
Dalam purposive sampling, kriteria yang dipilih biasanya dilakukan di awal perancangan penelitian sesuai dengan faktor-faktor dan tujuan dari masing-masing sampel, teori dan hipotesis yang di peneliti. Sampel juga diharuskan merupakan variabel/objek yang jelas dan tidak bergantung (independen) agar menghasilkan penelitian yang cermat.
Theoritical sampling adalah jenis dari purposive sampling dimana peneliti akan melihat sampel seperti suatu insiden, orang banyak atau unit-unit ynag menjadi sumber potensial dalam kontribusi untuk membangun dan menguji konstruk sebuah teori. Peneliti akan memilih sampel awal, menganalisis data, lalu memilih sampel lebih jauh untuk menyaring beberapa kategori dan teori yang diperlukan saja. Jadi, theoretical sampling adalah proses pengumpulan data untuk menggenaralisasi teori untuk menganalisis kode, data dan memutuskan data apa yang akan dikumpulkan selanjutnya dan dimana.
Dua tipe sampling adalah non-interaktif:probability, dan interaktif:theoretical samples yang berorientasi pada kekayaan data dan kualitas dari konsep dan teori.
Oportunistic sampling melibatkan peneliti untuk mengambil keuntungan dari dari kesempatan tak terduga yang dibangun saat di lapangan kerja. Penelitian kualitatif tidak men-set untuk mengestimasi suatu insiden atau fenomena dalam populasii yang lebih besar. Kualitatif sampling ini menggunakan logika yang berbeda dengan kuantitatif, bisa dalam representatif logika dan konsiderasi pokok. Persamaan dalam purposive dan theoritical sampling adalah sama-sama memakai kriteria pemilihan, dan sama-sama menggunakan skala kecil dalam sampel.
Seperti yang dikatakan di awal, tujuan dari penelitian kualitatif adalah untuk memperoleh pemahaman alami dalam suatu fenomena, membongkar maksud dan membangun penjelasan, menghasilkan ide, konsep, dan teori. Sampel dibutuhkan untuk menyeleksi dan memastikan inklusi dan relevansi dari konstitusi, events, prosesnya, dll. dan syarat sampelnya adalah yang mewakilkan dan menyimbolkan. Ukuran sampel dalam kualitatif biasanya dalam ukuran kecil, karena: untuk mengantisipasi bukti-bukti yang ada dalam fenomena yang biasanya hanya muncul satu kali agar tetap terdeteksi dan data-data yang dihasilkan adalah data yang kaya dan membutuhkan pendalaman pemahaman yang didapatkan dari interview, observasi, dll yang dimana pengumpulan datanya dapat memakan waktu yang lama, bahkan sampai bertahun-tahun. Theoritical sampling akan cocok dilakukan di tempat yang tidak dikenal dan sulit untuk mengidentifikasi karakterstik sampel untuk penelitian explanatory.
Populasi juga menjadi penting untuk menentukan sampel, maka dari itu untuk memilih populasi yang tepat, lihat dari beberapa aspek seperti apakah kelompok tersebut adalah grup sentral dari inti pembahasan penelitian apa bukan, lalu apakah ada kelompok lain diluar kelompok sentral yang patut dipertimbangkan juga karena pengaruh, pandangan, dan pengalamannya.
Sample frames memiliki beberapa syarat, seperti apakah sample frame menyediakan detail dari pilihan sampel? Dimana purposive dan theoritical sampling membutuhkan penyajian sampel yang potensial dan berwawasan luas. lalu apakah sample frame menyediakan dasar yang komprehensif dan inklusif dimana penelitian akan dipilih? Lalu pertimbangkan juga partisipannya yang capable demi mencapai studi yang mendalam dan mumpuni. Dan terakhir, apakah sample frames menyediakan semua informasi untuk menghubungi banyak orang yang akan menjadi sampel sepetri alamat, dll.
Sampel frame dengan informasi dari luar atau existing information sources akan menghasilkan tipe sample frames yang baik. Contohnya adalah dengan admnistrative record—catatan administratif atau database yang telah tersedia sebelumnya, published list—untuk mendapatkan data organisasi atau perkumpulan para profesional, survey sample—dimana populasinya kecil dan jarang.
Untuk menghasilkan sampling frames, selain dengan data sources adalah dengan membuatnya sendiri dengan cara: household screen—mempelajari lingkungan sekitar dengan wawancara pendek, through an organisation—dimana sampel yang dibutuhkan akan lebih mudah jika menggunakan satu organisasi yang cukup memenuhi syarat. Beberapa pendekatan juga dapat digunakan bersamaan jika sedang dibutuhkan. Lalu ada snowballing or chain sampling—dimana melakukan wawancara orang yang sudah pernah diwawancarai sebelumnya untuk mengetahui apakah orang lain cocok untuk dijadikan kriteria, dan yang terakhir adalah flow population.
Untuk membuat purposive sample. Ada beberapa yang harus diperhatikan seperti mengidentifikasi populasi yang akan dipelajari, memilih kriteria dari purposive sample dan menmprioritaskannya, memutuskan lokasi tempat studi, membuat sample matrix, kuota untuk pemilihan, alokasi area, ukuran sampel, dan purposive sample untuk diskusi grup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar