REVIEW X: Qualitative
Chapter
4-Jane Ritchie, Jane Lewis, and Gillian Elam: Designing and Selecting Sampling
Oleh: Yasinta
Sampel adalah hal yang
penting dalam tiap penelitian, baik kualitatif atau kuantitatif. Dalam studi kasus
dan populasi yang kecil pun atau kasus yang sederhana, keputusan yang dibuat
akan tetap mempertimbangkan orang banyak.
Metode sampling yang
telah diperkenalkan adalah probability
sampling dan non-probability
sampling. Probability adalah metode
sampling yang biasanya digunakan dan pendekatan paling tepat untuk penelitian
statistik, tetapi tidak cocok untuk penelitian kualitatif, meski membantu
menyediakan konteks yang akan dipahami. Dalam metode ini, sampel dipilih secara
acak atau dalam beberapa kasus akan dipilih secara tidak seimbang demi mendapatkan
sampel yang representatif. Metode ini cocok untuk menganalisa populasi yang
luas dan menguji hipotesis secara empirik. Metode ini dibagi lagi menjadi
simple random sampling, systemati random sampling, stratified random sampling,
dan multistage sampling.
Penelitian kualitatif
menggunakan sampel non-probability untuk memilikh populasi dalam studinya,
sampel dipilih dengan sengaja untuk merefleksikan fakta-fakta atau fenomena
yang diutamakan dari sebuah kelompok. Sampel tidak diharapkan untuk
merepresentasikan dari satu populasi, tapi bisa menjadi dasar dari masalah yang
akan diteliti sehingga cocok untuk small-scale
dan in-depth studies.
Pemilihan dari
partisipan dalam penelitian ini, pengaturan dari unit sampling adalah standar
yang berdasarkan tujuan (criterion based
on purposive). Unit sampel dipilih yang memiliki detail untuk dieksplorasi
dan mengerti permasalahan central dan dapat melengkapi teka-teki yang para
peniliti akan pelajari. Seperti karakteristik socio-demografi, perilaku yang
spesifik seperti sikap, aturan dll yang disebut juga ‘judgement sampling’
Dua tujuan dari
purposive sampling adalah untuk memastikan para pemilih bisa di-cover
dan memastikan kriteria kunci tetap ada dan keragaman yang lain pun tetap ada
untuk menghasilkan suatu pengeksplorasian yang baik.
Beberapa pendekatan
dalam purposive sampling, adalah homogenous samples (untuk memberikan
deatil/fakta dari satu fenomena), heterogenous
samples (untuk mengidentifikasi penyebab utama dari suatu kasus), extreme case or deviant sampling (untuk
kasus yang tidak biasa yang mendpatkan bebrapa pengecualian), intensity sampling, typical case sampling,
stratified purposive sampling (untuk memilih kelompok yng bervariasi dalam
mengungkap fakta-fakta suatu fenomena yang didalamnya terdapat kumpulan sampel
yang homogen), dan critical case sampling.
Dalam purposive sampling, kriteria yang
dipilih biasanya dilakukan di awal perancangan penelitian sesuai dengan
faktor-faktor dan tujuan dari masing-masing sampel, teori dan hipotesis yang di
peneliti. Sampel juga diharuskan merupakan variabel/objek yang jelas dan tidak
bergantung (independen) agar menghasilkan penelitian yang cermat.
Theoritical sampling
adalah jenis dari purposive sampling
dimana peneliti akan melihat sampel seperti suatu insiden, orang banyak atau
unit-unit ynag menjadi sumber potensial dalam kontribusi untuk membangun dan
menguji konstruk sebuah teori. Peneliti akan memilih sampel awal, menganalisis
data, lalu memilih sampel lebih jauh untuk menyaring beberapa kategori dan
teori yang diperlukan saja. Jadi, theoretical sampling adalah proses
pengumpulan data untuk menggenaralisasi teori untuk menganalisis kode, data dan
memutuskan data apa yang akan dikumpulkan selanjutnya dan dimana.
Dua tipe sampling
adalah non-interaktif:probability, dan interaktif:theoretical samples yang
berorientasi pada kekayaan data dan kualitas dari konsep dan teori.
Oportunistic
sampling melibatkan peneliti untuk mengambil keuntungan dari
dari kesempatan tak terduga yang dibangun saat di lapangan kerja. Penelitian
kualitatif tidak men-set untuk mengestimasi suatu insiden atau fenomena dalam
populasii yang lebih besar. Kualitatif sampling ini menggunakan logika yang
berbeda dengan kuantitatif, bisa dalam representatif logika dan konsiderasi
pokok. Persamaan dalam purposive dan
theoritical sampling adalah sama-sama memakai kriteria pemilihan, dan
sama-sama menggunakan skala kecil dalam sampel.
Seperti yang dikatakan
di awal, tujuan dari penelitian kualitatif adalah untuk memperoleh pemahaman
alami dalam suatu fenomena, membongkar maksud dan membangun penjelasan,
menghasilkan ide, konsep, dan teori. Sampel dibutuhkan untuk menyeleksi dan
memastikan inklusi dan relevansi dari konstitusi, events, prosesnya, dll. dan
syarat sampelnya adalah yang mewakilkan dan menyimbolkan. Ukuran sampel dalam
kualitatif biasanya dalam ukuran kecil, karena: untuk mengantisipasi
bukti-bukti yang ada dalam fenomena yang biasanya hanya muncul satu kali agar
tetap terdeteksi dan data-data yang dihasilkan adalah data yang kaya dan
membutuhkan pendalaman pemahaman yang didapatkan dari interview, observasi, dll
yang dimana pengumpulan datanya dapat memakan waktu yang lama, bahkan sampai
bertahun-tahun. Theoritical sampling akan cocok dilakukan di tempat yang tidak
dikenal dan sulit untuk mengidentifikasi karakterstik sampel untuk penelitian
explanatory.
Populasi juga menjadi
penting untuk menentukan sampel, maka dari itu untuk memilih populasi yang
tepat, lihat dari beberapa aspek seperti apakah kelompok tersebut adalah grup
sentral dari inti pembahasan penelitian apa bukan, lalu apakah ada kelompok
lain diluar kelompok sentral yang patut dipertimbangkan juga karena pengaruh,
pandangan, dan pengalamannya.
Sample frames memiliki
beberapa syarat, seperti apakah sample frame menyediakan detail dari pilihan
sampel? Dimana purposive dan theoritical sampling membutuhkan penyajian sampel
yang potensial dan berwawasan luas. lalu apakah sample frame menyediakan dasar
yang komprehensif dan inklusif dimana penelitian akan dipilih? Lalu
pertimbangkan juga partisipannya yang capable demi mencapai studi yang mendalam
dan mumpuni. Dan terakhir, apakah sample frames menyediakan semua informasi
untuk menghubungi banyak orang yang akan menjadi sampel sepetri alamat, dll.
Sampel frame dengan
informasi dari luar atau existing information sources akan menghasilkan tipe
sample frames yang baik. Contohnya adalah dengan admnistrative record—catatan
administratif atau database yang telah tersedia sebelumnya, published
list—untuk mendapatkan data organisasi atau perkumpulan para profesional, survey
sample—dimana populasinya kecil dan jarang.
Untuk menghasilkan
sampling frames, selain dengan data sources adalah dengan membuatnya sendiri
dengan cara: household screen—mempelajari
lingkungan sekitar dengan wawancara pendek, through
an organisation—dimana sampel yang dibutuhkan akan lebih mudah jika
menggunakan satu organisasi yang cukup memenuhi syarat. Beberapa pendekatan
juga dapat digunakan bersamaan jika sedang dibutuhkan. Lalu ada snowballing or chain sampling—dimana
melakukan wawancara orang yang sudah pernah diwawancarai sebelumnya untuk
mengetahui apakah orang lain cocok untuk dijadikan kriteria, dan yang terakhir
adalah flow population.
Untuk membuat purposive sample. Ada beberapa yang
harus diperhatikan seperti mengidentifikasi populasi yang akan dipelajari,
memilih kriteria dari purposive sample dan menmprioritaskannya, memutuskan
lokasi tempat studi, membuat sample matrix, kuota untuk pemilihan, alokasi
area, ukuran sampel, dan purposive sample untuk diskusi grup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar