Kamis, 23 Agustus 2012

Determinisme Ekonomi Marx



Makalah Pemikiran Politik Barat
Determinisme Ekonomi Marx
Oleh: Yasinta Sonia Ariesti
NPM: 1006762612
a.      Latar Belakang
Barat, dalam hal ini Eropa adalah tempat dimana lahirnya pemikiran-pemikiran yang kelak menjadi konsep utama kemajuan ilmu pengetahuan. Tempat berkembangnya ide dan gagasan yang brilian dan berkontribusi besar pada seluruh dunia. Perkembangan yang amat berharga ini berawal dari sebuah revolusi mengenai sebuah cara bagaimana seharusnya manusia berfikir dan mengembangnkan apa yang ada di pikiran dan hatinya. Pada masa ini, kebebasan dalam mengungkapkan dan menelurkan ide-ide adalah sesuatu hal yang langka dan menjadi titik awal kemajuan dari ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh para tokoh-tokoh pemikir.
Marx, adalah salah satu pemikir abad pertengahan yang hidup di zaman revolusi Industri di Eropa dan berhasil menelurkan konsep utamanya yaitu konsep kelas. Konsep kelas dan semua pemikiran lainnya akhirnya menjadi suatu paham tersendiri dan berkembang menjadi banyak aliran paham lainnya seperti marxisme dan komunisme. Pemikiran Marx nyatanya tidak hanya sebatas mengenai kelas, tetapi ia juga fokus pada pemikiran ekonominya, contohnya adalah determinisme ekonomi. Konsep determinisme ekonomi Marx adalah salah satu konsep dari Marx yang terdapat dari konsep materialisme sejarah Marx dan bersama-sama membangun satu grand theory : negara kelas.
Marx sangat tertarik pada bidang ekonomi. Ia berfikir bahwa ekonomi adalah sumber utama terjadinya kapitalisme dan konflik sosial, dalam hal ini konflik kelas. Ia memandang ekonomi mendominasi dari terjadinya sejarah, meski dalam beberapa tulisan yang ditemui, Marx sedikit ragu dengan pernyataannya ini. Determinisme ekonomi menjadi penting untuk dibahas dan dikaji karena pengaruhnya yang dominan pada hampir seluruh pemikiran Marx dan inilah yang membuatnya menjadi seorang pemikir yang materialis. Ia bersandar pada fakta dan kajiannya yang empiris dalam membuat teorinya, segala yang kebendaan. Maka, uraian dari makalah ini akan menyampaikan secara jelas determinisme ekonomi yang diusung Marx agar pemikiran Marx dapat dipahami secara utuh.

b.      Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan determinisme ekonomi yang digagas oleh Marx?
c.       Pembahasan
Kehidupan dan Perkembangan Pemikiran Marx
Karl Marx adalah pemikir dalam ranah sosial, politik, dan filsafat. Pemikiran dan konsep utama yang dilahirkannya adalah konsep kelas yang terinspirasi oleh lingkungan ia hidup. Marx lahir di Jerman pada tahun 1818, lebih tepatnya di distrik Moselle, Prussian Rhineland. Ia hidup pada zaman Industrialisasi di Eropa yang sedang mengalami perkembangan yang pesat akibat dari revolusi industri. Ia melihat sendiri kehidupan yang menyedihkan yang dijalani oleh para buruh. mereka hanya bekerja dan bekerja dari pagi hingga mereka harus tertidur lagi, hanya untuk mendapatkan alat penyambung hidup yang tidak banyak. Mereka begitu bekerja keras dan dieksploitasi oleh para perusahaan, dipaksa untuk berproduksi dalam satu sistem kapital dimana yang memegang kendalinya adalah mereka para golongan yang memiliki unit modal untuk menggerakkan produksi.
Marx melihat kehidupan buruh yang tidak  layak di kolong-kolong jembatan, makan seadanya, dan hidupnya tidak ada yang menjamin apalagi yang memerhatikan. Marx merasakan peran dari negara yang sangat sedikit, atau tidak ada sama sekali. Buruh sangat jauh dengan negara yang seharusnya melindunginya. Seperti dikatakan Prof. Ahmad Suhelmi dalam bukunya Pemikiran Politik Barat, Marx memandang negara sebagai mahluk yang jahat, hampir sama dengan istilah ‘leviathan’ dari Hobbes. Negara adalah pelindung dari modal-modal yang dimiliki para golongan yang memiliki modal untuk tetap dapat melakukan berbagai produksi dan menambah kapital-kapitalnya. Ini mempertegas hanyalah mereka yang memiliki modal-modal untuk produksi yang memiliki perlindungan negara berikut aksesnya, sedangkan para buruh tidak memilki akses sama sekali karena mereka tidak memiliki modal yang menghubungkan mereka dengan negara. Negara pun memperlihatkan bahwa tidak memiliki alasan untuk melindungi para buruh, karena yang mereka miliki hanyalah tenaga dan raganya saja, yang seolah tidak perlu dilindungi.
Marx dalam hidupnya mengalami perkembangan dalam berfikir, baik berubah sudut pandangnya dan gaya berfikirnya. Ia juga memiliki koridor pemikiran yang berbeda antara Marx tua dan Marx muda seperti yang diperbincangkan oleh para ahli. Perbedannya terletak pada tulisan-tulisan pentingnya yang merepresentasikan muda dan tuanya Marx. Saat muda, para ahli mengidentifikannya dengan tulisan The German Ideology dan naskah-nakah Paris yang ditulisnya pada akhir 1843 yang nyatanya baru diterbitkan lama setelah Marx meninggal dunia.[1] Marx tua diididentifikasikan pada pemikirannya masih dengan tulisan The Germann Ideology yang ditulisnya bersama kawan dekatnya, Engels dan pada saat itu ia berumur 28 tahun pada 1846. Tulisan dan pemikirannya yang paling mencolok pada Marx yamg muda dan tua adalah jika sebelum 1846 ia adalah seorang yang humanis, setelahnya ia menjadi yang anti-humanis dan ilmiah, seperti yang ia banggakan pada pemikirannya yang berdasarkan materialisme.
Konteks pemikiran dari Marx memang dengan jelas terlihat dari pergaulan dan lingkungannya. Pertama, Marx berkembang setelah lulus dari sekolah gymnasium—sebuah ssekolah menengah Jerman berjenjang sembilan tahun yang berbahasakan Yunani kuno dan Latin—di Prussia, Jerman Utara dengan kondisi politik yang represif dimana kebebasan menjadi satu barang langka saat melawan kembali Napoleon. Marx menjadi seorang pelarian dari Prussia yang sangat reaksioner. Undang-undang mengenai kebebasan dihapuskan, siapapun yang terlalu liberal (seperti pers dan para tokoh) diawasi dengan ketat dan akan ditahan.
Lalu ia bersekolah di Universitas Berlin dimana ia mulai berkenalan dengan karya-karya Hegel (Hegel adalah mantan profesor di Universitas Berlin ) yang sangat menginspirasinya, karena tak jarang pada saat mudanya Marx, selain mengagumi pemikiran-pemikiran Hegel dan hampir semua pemikirannya mirip, mengakui bahwa ia adalah seorang Hegelian.[2] Hegel telah menginspirasinya—terutama dalam ajaran filsafat politik yang menempatkan rasionalitas dan kebebasan sebagai nilai tertinggi—dalam mengarahkan pertanyaan dasar dalam konsep kelasnya: “bagaimana membebaskan orang-orang yang tengah tertindas dan tak berdaya dalam suatu tatanan politik yang kacau”. Ajaran Hegel juga dikatakan bersifat ateistik[3] yang menambah kecocokan dengan Marx. Marx memiliki minat yang kosong pada agama dengan mengistilahkan agama adalah candu.
Marx berkenalan dengan filsafat Ludwig Feurbach (The Essence of Christianity) dan mempengaruhi pemikiran Marx sampai mendalam. Ia mencari atas jawaban dari segala pertanyaan yang timbul saat ia di Prussia di Paris. Di Paris ia bertemu dengan para tokoh sosialis, para pelarian dari Jerman seperti dirinya, dan Friedrich Engels. Paris memang menjadi basis sosialis radikal dan akhirnya Marx menjadi seorang yang sosialis klasik setelah berkenalan dengan hal kepemilikan pribadi adalah tidak mungkin selama terjadinya eksploitasi. Disini adalah pertemuan pertama Marx dengan kaum buruh industri.
Inilah yang melatarbelakangi pemikiran dan perhatiannya pada penghapusan milik pribadi, rasa sosialis yang sama rasa dan sama rata. Sosialismenya adalah sosialisme yang berdasarkan kenyataan, hukum-hukum yang dipakai masyarakat, dan sesuai dengan cita-cita rasional. Pada tahap inilah Marx berubah dari pemikirannya yang filosofis menjadi lebih sosial dengan segala keilmiahannya berdasar pada materialistik dan mulai menggunakan sisi ekonominya. Dari prinsip materialistiknya, Marx bergerak maju pada kapitalisme, dimana kapitalisme yang berorientasi pada keuntungan dari para kaum pemegang modal akan menghasilkan sebuah perjuangan dari golongan buruh atau pekerja yang selama ini tengah menjadi perhatiannya. Produksi kapitalis inilah yang diprediksi Marx akan menimbulkan revolusi dari kaum pekerja untuk menghapuskan alat-alat produksi dan kepemilikan pribadi dan mewujudkan masyarakat yang sosialis, yang tanpa kelas. Marx memandang penting individu dalam proses produksi sosial atau co-operation of several individual yang memiliki hubungan ganda yaitu: alami dan sosial.
            Dari Paris, Marx pindah ke Brussel karena diusir oleh pemerintah atas korannya yang tidak pernah terbit Die Rheinishe Zitung. Lalu tiga tahun kemudian ia diusir lagi dari Belgia dan menetap selamanya di London bersama keluarganya. Di London, ia memulai hidupnya yang baru dengan kesadaran penuhnya bahwa ia adalah seorang pemikir yang pikirannya menjadi penentu masyarakat luas. ia melahirkan buku-buku yang kelak menjadi masterpiece-nya. Kehidupan Marx bersama keluarganya tidaklah begitu baik dalam urusan keuangan, hidupnya miskin sampai salah satu anaknya meninggal karena kelaparan karena Marx tidak memiliki pemasukan yang tetap dan ia tidak pandai dalam mengatur uang. Di dua puluh tahun akhir hidupnya, Marx mendapat kiriman uang dari Engels dan menyelamatkannya dari kegersangan kehidupan ekonomi.
Pemikiran Marx mengenai Determinasi Ekonomi
            Meskipun Marx adalah pengagum utama dari Hegel dan beberapa konsep dan pemikirannya terinspirasi dari Hegel, ia juga salah satu pengkritik Hegel yang utama. Hegel menganggap faktor non duniawi lah yang mempengaruhi sejarah, hal seperti roh, semangat dan ide tetapi Marx sangat menyangkal argumen ini. Ia menyangkal dengan pemikirannya dimana sejarah tidak akan terjadi bukan karena pertentangan yang terjadi di level khayalan/gagasan atau dunia tidak nyata tetapi ditentukan oleh apa yang terjadi di dunia. Marx dalam The German Ideology mengatakan:
                “....kami tidak bertolak dari apa yang dikatakan orang, dari bayangan dan cita-cita orag, juga tidak dari yang diperkatakan, dipikirkan, dibayangkan, dicita-citakan untuk sampai kepada manusia nyata; (melainkan) kami bertolak dari manusia yang nyata dan aktif, dan dari proses hidup nyata merekalah perkembangan refleks-refleks serta gemagema ideologis proses hidup itu dijalankan....”[4]
            Ini adalah gagasannya mengenai konsep meterialisme sejarah yang mengabsenkan pentingnya sebuah gagasan dan kontribusinya pada sejarah. Disebut juga sebagai materialis karena sejarah dianggap ditentukan oleh syarat-syarat produksi material, materialisme disini bukan dalam arti filosofis, sebagai kepercayaan bahwasanya realita adalah materi, melainkan menunjuk pada hal yang menentukan sejarah. Dan jawabannya adalah keadaan material=ekonomi, bukan pada pikiran dan gagasan. Material yang ditekankan adalah produksi kebutuhan material manusia, cara manusia menghasilkan apa yang dibutuhkan manusia untuk hidup. Kondisi material masyarakat dianggap sesungguhnya berasal dari dan disebabkan oleh ide besar yang menggugah semangat. Penekanan secara eksklusif yang terjadi pada ide sebagai penggerak sejarah mengabaikan kenyataan bahwa ide tidak saja menimbulkan tetapi juga mencerminkan adanya peristiwa tertentu.[5] sikap material dari Marx juga mnunjukkan bahwa Marx memahami semua kepentingan hanay sebagai yang ekonomis saja, entah langsung entah tidak langsung, ia memandang kekuasaan politik hanya menhadi kepentingan sebagai fungsi kekuasaan ekonomis.[6]
Marx dalam perspektifnya menyatakan bukan cita-cita kebebasan yang menjadi kekuatan dalam sejarah modern tetapi kebutuhan kelas kapitalis akan tersedianya buruh saat dibutuhkan dan lingkungan atau kondisi-kondisi yang berada disekitar dimana memungkinkan terlaksananya ide tersebut, kelangsungan dan tentunya dampak dari ide tersebut yang akan membaur dengan lingkungan tersebut.
Bagi Marx, sejarah terjadi karena pertentangan yang terjadi pada dunia material, sesuai dengan konsep materialismenya atau konsep serba benda. Bentuk dan kekuatan produksi material tidak saja menentukan proses pekembangan dan hubungan-hubungan sosial manusia, seta formasi politik tetapi juga pembagian kelas-kelas sosial.[7] Hubungan-hubungan produksi menjadi sangat dipengaruhi oleh kekuatan sosial dalam menciptakan bentuk kekuatan produksi mereka. Determinasi ekonomi adalah dimana hal-hal yang bersifat mendasar (basis) seperti bentuk modal, alat-alat produksi, dan kekuatan-kekuatan modal lainnya yang mempengaruhi sejarah, bukan kehidupan sosial seperti agama, politik, filsafat, seni, bahkan negara (suprastruktur) lah yang mempengaruhi dan membuat sejarah.
Marx memandang segala perubahan politis adalah hal-hal yang berkaitan dengan produksi—kemajuannya—dimana tujuan dari sejarah adalah kemajuan dalam perbaikan hidup manusia yang hanya bisa dilakukan di tahapan duniawi. Istilah “basis” dalam beberapa literatur disebut sebagai “infrastuktur” dengan ciri-ciri basis adalah pertentanga antara kelas-kelas atas dan kelas-kelas bawah. Sedangkan “suprastruktur” juga disebut “bangunan atas” dengan ciri-cirinya adalah yang mengatur kehidupan masyarakat diluar hal-hal keproduksian, termasuk norma, agama, kesehatan, sistem pendidikan, lalu lintas, dll.
Ide determinasi ekonominya timbul pada fase Marx tua, diawali dengan The German Ideology seperti yang telah dijabarkan diatas pada perkembangan pemikiran Marx, yaitu saat Marx berubah menjadi seorang yang anti-humanis dan bersandar pada rasionalitas demi menunjukan keilmiahannya. Ia menemukan hukum yang mengatur perkembangan masyarakat dan sejarah yaitu ekonomi. Ekonomi adalah hal yang mndasar bagi pandangan sejarah materialistiknya. Dan inilah yang menjadikannya sebagai pemikir sosialisme ilmiah, sosialisme yang tidak berdasarkan harapan atau keingan khayalan belaka, semuanya serba benda dan berdasarkan kepada analisis ilmiah terhadap perkembangan kehidupan hukum masyarakat. Ia merumuskan bidang ekonomi menentukan aspek politik dan pemikiran manusia, meski faktor ekonomi sendiri ditentukan oleh konflik antara golongan pekerja dan pemilik modal yang konflik tersebut dipertajam oleh inovasi di bidang teknik produksi. Pertentangan tersebut juga akhirnya akan meledak dalam sebuah revolusi yang akan mengubah struktur dan kekuaaan di bidang ekonomi, kenegaraan, dan gaya berfikir manusia.
Dalam buku ini, Marx juga mengatakan bahwa sistem kapitalis akan runtuh setelah terjadinya revolusi. Revolusi yang akan memecah kelas-kelas menjadi saling bertentangan dan menghasilkan masyarakat sosialis karena berhasil menghilangkan kelas dalam masyarakat.
Teori perkembangan masyarakat dipengaruhi perkembangan ekonomi dari Marx ini mengharuskannya untuk membuktikan teori tersebut dengan memperlihatkan bahwa ekonomi kapitalis akan segera menuju kehancurannya secara ilmiah. Pada akhirnya Marx masih merasa sulit membuktikan teori ini, ia menjadi fokus pada pendekatan ekonomi terhadap kajiannya yaitu civil society[8] dan menciptakan teori-teori baru. Hal lainnya yang mendasari pemikiran determinasi ekonominya adalah pendapatnya mengenai keterasingan. Manusia selalu hidup dalam keterasingan dan terasing dari hidupnya sendiri. Entah apa maksudnya, tapi keterasingan tersebut muncul karena faktor kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi yang nantinya akan menimbulkan konflik dari diri sendiri untuk melindungi usahanya dan bersaing dalam industrialisasi. Hak milik tersebut juga membuat para golongan pemilik alat tersebut untuk hidup dari “penghisapan” para golongan pekerja yang mana struktur ekonomi itu dicerminkan didalam struktur kekuasaan dibidang sosial dan ideologi. Memang terlihat pada akhirnya jika sejarah itu paling ditentukan oleh struktur dari masyarakat dan perkembangan kelas-kelas sosial yang terdapat didalamnya dimana kelas-kelas ini tercipta atas motivasi alamiah dari manusia untuk memperbaiki keadaan hidupnya dengan membuat kemampuan individu masing-masing semakin spesifik dan adanya pembagian kerja. Intinya, siapapun ia yang memiliki kekuatan ekonomi, ia akan secara mudah mendapatkan akses pada negara, bahkan menguasai, sehingga kekuasan negara cenderung sering mendukung kaum pemegang kekuatan ekonomi ini untuk kepentingan mereka. Begitu pula dengan tatanan agama atau nilai yang berperan untuk memberikan legitimasi pada kekuasaan golongan-golongan tersebut. Struktur kekuasaan politis  maupun spiritual dalam masyarakat mencerminkan struktur kekuasaan golongan atas kepada golongan pekerja/bawah dalam hal ekonomi.
Alasan logis lainnya yang dituangkan Marx adalah seperti ini, manusia sebagai manusia tentunya butuh dan harus makan dan minum, berpakaian, tempat tinggal, istirahat dan lainnya sebelum manusia melakukan kegiatan sosial, politik, menimba ilmu, agama, urusam kenegaraan, dan lain seterusnya. Jadi bahwa produksi nafkah hidup material bersifat langsung dan dengan demikian tingkat perkembangan ekonomis sebuah masyarakat tau zaman masing-masing menjadi dasar dari bentuk-bentuk kenegaraan, pandangan hukum, seni, dan religiusnya masyarakat.[9] Saya kira ini sudah masuk dalam tahapan dimana ekonomi mendeterminasi ke arah pembentukan kebudayaan, bukan lagi sejarah saja karena mencangkup aspek-aspek pembangun kehidupan. Marx memang tidak mengklaim bahwa hanya faktor ekonomi sajalah yang menciptakan sejarah, ia hanya menyatakan bahwa faktor ini adalah yang terpenting sebagai dasar dan landasan untuk membangun sebuah suprastruktur kebudayaan, perundang-undangan, dan pemerintahan yang diperoleh pula oleh berbagai ideologi politik, sosial, keagamaan, dan hal lainnya yang sejalan berdampingan.[10] The German Ideology juga tidak menyebutkan bahwa interpretasi mereka (Marx dan Engels) mengenai sejarah adalah satu-satunya yang dapat merepresentasikan dari sejareh tersebut.[11]
Konsep determinasi ekonominya sudah dapat menggambarkan sosialismenya yang ilmiah arena berdasarkan pengetahuan dan hukum-hukum objektif. Diluar konsep revolusi kaum pekerja yang akan menciptakan masyarakat tanpa kelas yang dinilai utopis, tidak logis dan memang tidak terbukti kebenarannya di masa kontemporer. Konsep determinisme ekonomi dari Marx adalah salah satu kelemahan lain di pemikirannya. Menurut penulis, faktor ekonomi atau faktor apapun tidak dapat dikatakan mendominasi terjadinya sebuah sejarah. Sejarah terjadi bukan karena satu faktor tunggal yang berpengaruh, dan dalam keadaan tersebut harus dibutuhkan lagi suatu penelitian yang mendalam dan empiris untuk mengetahui faktor apa yang paling berperan pada sejarah.
Kesimpulan
Pemikiran determisime ekonomi Marx adalah sebuah pemikiran Marx yang memandang secara utuh, bahwa faktor utama dari terjadinya sejarah adalah hal ekonomi. Ia melihat unsur-usnru besar (bangunan atas) seperti politik, agama, pendidikan, dan lain sebagainya di[engaruhi oleh motif ekonomi dalam menjalankan kehidupan bernegara. Marx membagi dua faktor yang mempengaruhi terjadinya sejarah yaitu basis dan bangunan atas atau yang lebih populer disebut infrastruktur dan suprastruktur. Dan suprastruktur ini adalah penentu sejarah dimana suprastruktur dipengaruhi oleh infrastruktur yaitu ekonomi yang berupa kekuatan modal dan bentuk-bentuk alat produksi.
Marx memandang segala fenomena berlandaskan asas kebendaan atau materialisme. Ini memperlihatkan kelemahan Marx, ia seperti tidak memahami secara baik apa itu negara dan kekuatan sosial. Ia hanya memandang ada satunya kekuatan utama yaitu kekuatan ekonomi dan meniadakan peran negara dalam konsep negara kelasnya. Ini meruntuhkan klaim dirinya sendiri bahwa konsepnya adalah didasari dengan akal dan rasionalitas, padahal dengan konsep final yang diusungnya, ini adalah sebuah konsep yang utopis belaka. Negara tidak mungkin tiada, karena tetap saja dibutuhkan untuk mengatur beberapa hal yang mungkin manusia tanpa kelas pun tidak mau untuk menjalankannya. Kacamata ekonomi yang dipakainya juga menimbulkan satu tubrukan logis, dimana tidak mungkin sebuah sejarah hanya bisa atau didominasi oleh faktor ekonomi. Mungkin saja terjadi, tapi Marx harus melihat sebuah fenomena dari konteks yang terjadi.
Daftar Pustaka
Referensi utama
Ebenstain, William. Isme-Isme Dewasa Ini. Jakarta: Erlangga. 1994
Magnis-Suseno, Frans. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: Gramedia. 1999.
Magnis-Suseno, Frans. Etika Politik: Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Jakarta: Gramedia. 2003
Oishi, Takahisha. The Unknown Marx: Reconsturcting a Unified Perspective. London: Pluto Press. 2001
Suhelmi, Ahmad. Pemikiran Politik Barat: Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Mayarakat dan Kekuasaan. Jakarta: PT. Gramedia. 2001
Referensi Pendukung
Licthteim, George. Marxism: A Historical and Critical Study. London: Routledge & Kegan Paul Ltd. 1961







[1] Franz Magnis-Suseno. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: Gramedia. 1999. Hal 7
[2] Ahmad Suhelmi. Pemikiran Politik Barat: Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negar, Masyarakat, dan Kekuasaan. Jakarta: PT. Gramedia. 2007 hal 282
[3] Magnis-Suseno. Pemikiran Karl Marx. Op,cit. Hal 47
[4] Ibid. hal 139
[5] William ebenstain. Isme-Isme Dewasa Ini. Jakarta: Erlangga. 1994. Hal 2
[6] Frans-Magnis. Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Jakarta: Gramedia. 2003. Hal 272
[7] Donald. Western Political Theory. Pamona College. 1968. Hal 843 dalam Suhelmi. Op,cit. Hal 284
[8] Takeshi Oishi. The Unknown Marx. London: Pluto Press. 2001. Dalam bab The Materialist Interpretation of History and Marx Dialectical Method yang menjelaskan dalam pembuktian teori ekonominya, Marx mengambil objek penelitian dengan pendekatan eknominya pada masyarakat sipil di Eropa
[9] Magnis-Suseno. Pemikiran Karl Marx. Op,cit. Hal 138
[10] Ebenstain. Op.cit.
[11] Takashi Oishi. Op,cit. Hal 22

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar